Desa Makamhaji
lihat selengkapnya
Potensi Desa Makamhaji
lihat selengkapnya
Dua Makam Diperebutkan
lihat selengkapnya
Proyek perbaikan Underpass tambal sulam menghilangkan barang bukti indikasi korupsi 27.M
lihat selengkapnya
Rangkuman Peristiwa Keraton Pajang
lihat selengkapnya
More Stories
Kamis, 15 September 2016
Rabu, 14 September 2016
by desamakamhaji
03.12
by desamakamhaji
01.49
Solopos.com,
SUKOHARJO–Underpas
Makamhaji di Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo mengalami banjir
saat hujan deras menerpa kawasan itu pada Sabtu (12/12/2015). Akibatnya empat
mobil dan belasan sepeda motor macet saat melintasi air yang menggenang.
Informasi
yang dihimpun Solopos.com, hujan mulai turun sekitar pukul 14.00 WIB. Hujan
deras segera mengumpul dan menggenangi underpass. Ketinggian air mencapai paha
orang dewasa. Empat mobil dan sepeda motor yang telanjur menerjang air akhirnya
macet.
Tak lama,
para pekerja dari PT Darma Perkasa segera mencari sumber banjir. Ternyata,
endapan aspal sisa pengaspalan Jumat (11/12/2015) malam menyumbat drainase. Hal
itu menyebabkan empat pompa air tak bekerja maksimal hingga mengakibatkan
banjir. Segera setelah drainase dinormalisasi dan hujan berangsur reda, air
tersedot pompa dan banjir pun lenyap.
Salah
seorang warga Dukuh Pijilan, Desa Makamhaji, Wawan Kiswara, 30, saat ditemui
Solopos.com di dekat underpass, mengatakan jalan itu baru dibuka Sabtu pagi.
Hal itu menjadi ironis karena pada siang hari underpass mengalami banjir.
“Antrean
kendaraan dari arah timur sampai ke Tugu Lilin Makamhaji. Ini masalah besar.
Setiap hujan selalu banjir,” terang dia.
Salah
seorang supeltas Underpass Makamhaji, Tukimin, mengatakan ia dan rekan-rekannya
segera mengalihkan arus kendaraan agar tidak terjadi kemacetan lebih parah. Ia
menyesalkan banjir yang kembali terjadi di underpass tersebut.
Sementara
itu, seorang pekerja PT Darma Perkasa, Marno, 37, mengatakan ada pengaspalan
pada Jumat malam. Aspal itu ternyata masuk saluran drainase dan menyumbat
sirkulasi air. Ia da rekan-rekannya kemudian mengeruk aspal agar air bisa
mengalir ke pompa air sehingga bisa dibuang dari underpass.
Ia
menjelaskan jalan di underpass sebenarnya belum dibuka secara resmi. Pembukaan akan
dilaksanakan pada 15 Desember 2015. Namun, masyarakat yang kurang sabar
ternyata menggunakan jalan itu. Alhasil, sebagian dari mereka terperangkap
banjir.
“Hari ini sedikit dibuka karena kami mempersiapkan
segala sesuatu agar saat pembukaan semua sudah beres. Jadi, hari ini underpass
belum dibuka secara resmi,” ujar dia kepada Solopos.com.
by desamakamhaji
01.47
Polisi membawa sejumlah barang bukti usai menggeledah rumah
kontrakan terduga teroris berinisial DK di Dukuh Gambiran RT 02 RW 14, Desa
Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (23/12) malam. (Antara
Foto/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terdakwa kasus terorisme Saifudin Al Fahmi alias
Udin terpaksa menyamar sebagai perempuan saat polisi melakukan penangkapan
terhadap dirinya. Pemuda 21 tahun itu mengaku mengenakan cadar untuk mengelabui
tim Detasemen Khusus 88 Antiteror yang melakukan penggerebekan.Hal itu disampaikan Saifudin saat memberikan keterangan sebagai saksi mahkota untuk terdakwa kasus yang sama, Yuskarman, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat hari ini, Rabu (30/3).
"Saat itu Anda pakai cadar adik, menyamar ya untuk kamuflase?" tanya Hakim Ketua Rukman Hadi kepada Saifudin merujuk pada surat dakwaan.
Saifudin mengiyakan pertanyaan hakim.
Saifudin ditangkap Densus 88 pada 25 Agustus 2015. Penangkapannya termasuk dalam kloter terakhir setelah polisi menangkap beberapa rekannya; Yuskarman, Ibadurrahman, dan Sugiyanto di Solo. Saifudin sempat lolos dari penggerebekan sebelumnya.
Dalam kasus ini, Saifudin ikut membantu mengumpulkan bahan bom rakitan milik jaringan teroris di Solo. Lelaki penjaga toko telepon seluler itu berperan menggerus arang sebagai salah satu bahan baku bom. ia mengaku diajari Ibadurrahman dalam merakit bom. Sedangkan Yuskarman pernah mengajari cara menggerus arang yang baik. Arang dibungkus dengan baju kemudian ditumbuk batu hingga halus.
"Arang itu untuk bahan bom," kata Saifudin.
Selain menggerus arang, Saifudin juga ikut mengumpulkan paku sebanyak dua kilogram, dan pentul korek untuk bahan bom rakitan. Bahan-bahan itu, kata Saifudin diserahkan ke Ibadurrahman.
Bom yang belum sempurna itu kemudian di simpan di Musala Attaubah. Di situ, Yuskarman biasa tinggal. Ada sebuah ruangan, kata Saifudin, untuk menginap.
"Bahan yang tadi digerus, pentul korek dan paku selanjutnya dibawa Ibadurrahman. Berboncengan sama Ibadurrahman menuju musola ke tempat Yuskarman, kami bawa barang," kata Saifudin.
Densus 88 menangkap keempatnya lantaran menduga mereka akan melancarkan serangan bom pada 17 Agustus 2015. Polisi juga menyita 21 bom di sebuah rumah kos di Karanganyar.
by desamakamhaji
01.45
SUKOHARJO (KRjogja.com) - Polsek Kartasura meminta kepada pemilik rumah kos dan kontrakan untuk membuat sistem pengamanan ketat dengan memasang pintu gerbang dan kamera CCTV. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kerawanan tindak kejahatan salah satunya pencurian.
Kapolsek Kartasura, AKP Demianus Palulungan mengatakan, tindak kejahatan rawan terjadi dengan sasaran utama di rumah kos dan kontrakan. Pelaku biasanya menyasar benda berharga milik para korbannya, seperti laptop, handphone, sepeda motor dan lainnya.
“Penghuni sering teledor karena meninggalkan barang begitu saja. Disisi lain pemilik rumah kos dan kontrakan tidak peduli memberi pengamanan. Mereka harus memasang pintu gerbang dan kamera CCTV,” ujar Demianus kepada KRjogja.com, Senin (29/08/2016).
Rumah kos dan kontrakan banyak tersebar disejumlah wilayah di Kecamatan Kartasura. Seperti di Desa Pabelan, Desa Gonilan, Desa Gumpang, Desa Makamhaji, Kelurahan Ngadirejo dan lainnya. Rumah kos dan kontrakan disediakan untuk memenuhi kebutuhan penghuni. “Rumah kos itu ada karena kebutuhan sebab banyak tempat sekolah, kampus, pabrik dimana para pelajar, mahasiswa dan pekerja butuh tempat tinggal,” lanjutnya.
Langganan:
Komentar (Atom)









